I’tikaf ibarat ruang gawat darurat untuk menangani tumor dosa dalam hati, ia dianggap wilayah steril dari ‘kuman’ dan kotoran dunia. Dahulu nabi Muhammad senantiasa melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Beliau juga melakukan i’tikaf selama 20 hari pada tahun meninggalnya beliau. Suatu kali beliau oernah kehilangan waktu i’tikaf, beliau mengqadhanya di sepuluh hari pertama bulan Syawal. Tindakan beliau menandakan arti penting ibadah tsb. Antusias nabi menjalankan ibadah ini menuntun kita untuk melakukan hal yang sama.
Dalam i’tikaf ada momen menyendiri dan memutus hubungan dengan orang lain serta membersihkan diri dari racun-racun interaksi dengan mereka. Mengubah pola hidup keseharian, seperti pola makan minum tidur dan berbagai sisi interaksi dengan orang lain. Efek psikologis yang luarbiasa bagi orang yang mau mencerna dan merenung.
Bentuk ketaatan ini adalah jalan bagi turunnya rahmat Allah. Ajukan diri anda untuk menyambut rahmat Allah. Semoga anda termasuk orang yang dirahmati olehNya. (Powerful Ramadhan, M Husain Ya’qub).-