Itikaf di masjid-masjid jami Jakarta


ITIKAF DI MASJID-MASJID JAMI JAKARTA

Oleh: Raldi Artono Koestoer (koestoer2000@yahoo.com)

Sejak beberapa tahun terakhir ini, pada sepuluh hari terakhir dibulan Ramadhan, masjid-masjid dipenuhi oleh umat islam yang melaksanakan itikaf di malam hari. Malam Lailatul-qadr akan turun pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, menurut hadits. Bahkan ada yang menyatakan Lailatul-qadr akan turun pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir. Itulah sebabnya umat islam baik pria maupun wanita berbondong-bondong melaksanakan itikaf (berdiam di masjid walaupun sejenak) baik sendiri maupun berombongan. Kegiatan ini memang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW dan keluarganya menjelang akhir Ramadhan. Tulisan ini membahas suasana itikaf dibeberapa masjid jami di Jakarta dan sekitarnya dan kemungkinan perlunya tindakan antisipasi dari pengelola masjid agar kemeriahan dan kekhusu’an malam-malam yang suci diakhir Ramadhan ini dapat terpelihara dengan baik.

Itikaf di masjid Istiqlal
Sebagai masjid yang konon termegah di Asia Tenggara, di sepuluh hari terakhir Ramadhan tak pernah dan insya Allah takkan pernah sepi oleh umat islam dari seantero Jakarta. Bahkan jemaah itikaf juga banyak yang datang dari luar kota bahkan luar negeri. Jemaah dari LN terlihat dari kulitnya dan perawakannya, misalnya dari Afrika terlihat mereka yang berkulit hitam atau mereka yang bermuka arab dan tinggi besar pasti dari Timur-Tengah. Kemudian mereka yang berceloteh dengan bahasa sunda kemungkinan besar berasal dari Garut Tasik dan Sekitarnya. Yang khas dari masjid Istiqlal ini adalah suasananya yang amat mirip dengan Masjidil haram, dimana qiyamulail yang dilaksanakan menjelang jam 01.30 dan berakhir sedikit lebih dari pukul 03.00. Bacaan Sholat yang panjang dan merdu dari imam hafidz terpilih menambah hening dan syahdu suasana malam. Tiga belas rakaat total termasuk witir menjadi kebiasaan di masjid ini sejak 5-6 tahun yang lalu. Bila anda menggunakan kendaraan bermotor, pintu masuknya dari arah timur depan gereja. Hanya satu pintu itu yang dibuka, mungkin untuk lebih mudah mengendalikan keamanan, sekalipun pengelolaan parkir juga dibantu oleh preman yang turut mengais rejeki dari para jemaah. Malam 27 Ramadhan menjadi malam yang paling ramai dan semarak karena banyaknya jemaah yang datang, namun bukan itu saja… Malam 27 itu menjadi malam yang paling mengharukan, karena jemaah selesai qiyamulail saling berpelukan, mereka sedih berpisah sekalipun tidak saling kenal sebelumnya. Suasana ukhuwah islamiyah amat kental terasa di malam 27. ”Akankah kita bertemu lagi ditahun yang akan datang… Hanya Allah Yang Maha Tahu”.

Masjid di selatan Jakarta
Yang amat menggemparkan adalah masjid Attin di Taman Mini Indonesia Indah. Mengapa menggemparkan ?
Penulis memperhatikan sejak 3 tahun terakhir ini jemaah itikaf disini amat banyak, sampai cari parkir saja susah. Padahal pelataran parkir masjid terluas di Jakarta kiranya masjid Attin inilah juaranya. Umat didalam lebih banyak lagi, sampai mau selonjor badan untuk tidur saja sulit. Namun pengelola parkirnya bekerja amat profesional sehingga patut kita acungkan jempol, jemaah merasa aman karena sekalipun mobil dan motor penuh semua tertata rapih dan terjaga. Umat islam yang datang malam hari di Attin ini mungkin sama banyaknya dengan jemaah jumat, hanya yang istimewa para wanita juga sama banyaknya dengan pria, bahkan nyaris lebih banyak. Bukan itu saja… anak-anakpun tak kalah banyak, mereka banyak yang terkordinir dalam pesantren kilat pengisi libur Ramadhan. Bila anda tidak membawa makanan sahur, jangan kuatir karena banyak PKL menawarkan berbagai menu makanan dan minuman. Tahun ini qiyamulail disini 13 rakaat juga, kalau tidak salah tahun lalu masih 7 rakaat ya ?
Masjid Pondok Indah termasuk masjid favorit untuk daerah selatan Jakarta. Jemaah elit kelihatan dari mobil-mobil mewah yang mereka gunakan. Qiyamulail 11 rakaat diakhiri dengan renungan syahdu menjadikan banyak diantara jemaah meneteskan airmata. Yang perlu dibenahi adalah amat kurangnya toilet untuk BAB dan urinoir. Kiranya pengelola perlu menyewa kabin toilet semi permanen (fiber) agar jemaah tidak kebingungan kalau kebetulan sakit perut karena hanya tersedia satu toilet saja untuk sekian banyak orang.
Yang paling istimewa adalah masjid Elnusa di Jl TB Simatupang. Apa hebatnya masjid ini ?
Toiletnya ada 9, semua terbuka dan bersih. Terdiri dari kloset jongkok dan duduk Sehingga jemaah tidak repot bila mau BAB bahkan mandi sekalipun. Kayanya ini masjid spesial untuk itikaf dan kebanyakan mereka yang datang dari golongan orang muda. Tapi akhwat kelihatannya tidak ada samasekali ? Panjangnya qiyamulail yang 11 rakaat mendekati masjid Istiqlal. Tentunya berdiri lama ini mengharuskan jemaah sehat lahiriah, karena kalau tidak bisa terjatuh dalam keadaan ngantuk yang tak tertahan.
Masjid Agung Al-Azhar juga ramai dikunjungi jemaah itikaf. Masjid ini sudah sangat dikenal dengan berbagai kegiatannya. Eksistensinya yang sudah lama di Jakarta dan letaknya yang strategis menyebabkan meriahnya penantian malam-malam Lailatul-qadr. Hal ini menjadikan daya tarik tersendiri bagi para sponsor, sehingga sahurpun menjadi gratis dengan adanya pembagian gratis makan dan minum dari salah satu resto fried-chicken ibukota.
Tanpa mengurangi kharisma dari masjid-masjid lain di Jakarta, tulisan ini mengungkapkan betapa semaraknya sepuluh malam yang terakhir di lingkungan masjid-masjid di Jakarta. Nikmat Iman dan nikmat Islam harus kita syukuri disaat banyaknya persoalan melanda negeri ini. Doa yang dilantunkan oleh para imam masjid mengingatkan kita bahwa apapun yang kita usahakan haruslah dengan ijin dan ridho Allah. Dengan itikaf, jiwa umat menjadi kuat dan tahan banting, semua ini terpancar dari wajah-wajah ceria didalam penantian Lailatul-qadr yang datangnya pasti karena Allah tidak pernah ingkar akan janjinya. Laylatul qadri khairum min alfi syahr, Tanazzalul malaaikatu war ruuhu fiihaa bi idzni rabbihim min kulli amr, Salaamun hiya hattaa mathla’il fajr.
(Raldi, 25 Ramadhan 1427- 18 Okt 2006)

  1. Baapaaaakkk!!!!!
    waaah!! bapak hobi Itikaf ramadhan jugaaa yaa!!
    saama pak sperti saya.. join itikaf aja pak. nti ramadhan barengan itikaf.
    kalo saya sih, itikafnya agak tersiksa. jalan2 keliling jakarta dari mesjid ke mesjid tnpa mengeluarkan byk uang.. nge-musafir. trus, charity jalanan..
    wah pak. keep this activity.

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s