Opini mhs tentang Kuliah


Opini mahasiswa tentang kuliah ETIKA (April 2011).

-0-

Nama : Bangkit Indriyana NPM : 0806455622 Email/Hp : bangkit.chems@gmail.com / 08978816928

Opini terhadap kuliah Etika Enjiniring dan usulan-usulannya Terlalu biasa dan tak sepadan kalau dibilang kuliah ini bagus. Karena kuliah Etika Engineering ini tak bagus, tidak kawan. Tetapi Luar Biasa.

Tak pernah kudapat pelajaran hidup yang tak sekedar teori PPKN/PKN biasa seperti ketika sekolah dasar dulu. Tak pernah. Sampai saat ini. Mengukuti Kuliah Etika Engineering ini seperti candu, sekali kau mencoba akan mau lagi, lagi, dan lagi. Tiap hari Senin sebelum masuk kelas aku kadang sibuk menebak “kejutan” apalagi yang akan diberikan si Dosen kepada kelas ini. Tiap pertemuannya menarik, tiap pertemuannya menggugah.

Tak ada ilmu pasti dalam kelas ini. Semua tentang pelajaan hidup, yang semakin jarang kau dapati dikelas lain. Atau bahkan kelasku ini satu-satunya yang tersisa. Tiap pertemuannya berarti lebih dari sekedar satu bab-dua bab-tiga bab teori dalam buku Engineering Ethics yang kalu kelas sebelah harus punya, katanya. Bapak Raldicara pengajarannya berbeda, seperti yang tadi kukatakan, si Dosen tidak memberikan teori saja. Ia bahkan menyuruh kami bergaul langsung, mendatangi, dan berinteraksi dengan kaum marjinal, benar saja, tak ada guru yang paling baik melebihi pengalaman diri sendiri.

Dosen Etika Engineering ini tahu betul bagaimana cara mengajar sekaligus mendidik. Bukan Cuma baca slide yang jumlahnya ratusan lalu memberikan kuis tentang etika. Konyol. Bayangkan saja bagaimana dosen kelas sebelah dapat menjadikan etika sebuah kuis? Hey, etika itu masalah moral. Mengapa harus menjadikan moral bahan untuk kuis? Aih, geli rasanya. Tapi kelasku beda. Kelasku ini menciptakan generasi yang beda. Dikelas kami disumpah. Sumpah anti korupsi sehingga jiwa-jiwa kami tergerak untuk melawan, memberantas, dan mencegah korupsi. Kelas lain? Hmm.. mungkin cuma teori dalam bab-bab tertentu dibukunya yang terpaksa harus dihapalkan menjelang UTS atau UAS. Dosen Etika Engineering S405 yang kreatif dan interaktik dalam menyampaikan materi yang ada membuat dikelas mahasiswa tidak merasa bosan. Lucunya lagi, kadang kami diberikan videon-video tentang aktivitas dan gelagat kami dikelas yang direkam secara tak sadar oleh pak Raldi. Terimakasih Pak. Kedepannya, akan menarik bila kita bisa mendatangkan tokoh inspiratif kekelas kita, sehingga kami lebih termotivasi lagi untuk menjadi lebih baik dari sekarang.

-0-

Nama: Ario Wibawa Satria, NPM: 0806454626, Email : ario.izecson@yahoo.com, No. HP: 085694133870

Kuliah etika enjinering yang saya rasakan sungguh berbeda dengan kelas etika lainnya seperti yang teman saya ceritakan di semester-semester sebelumnya. Di sini kita belajar secara terbuka dalam hal pemikiran dan juga kebebasan dalam berpendapat. Prof. Raldi tidak pernah mengatakan salah pada setiap pendapat yang kita ajukan, namun ia hanya memberikan pandangannya secara jujur dan objektif. Suasana kelas juga sangat menyenangkan, tidak terlalu kaku dan terjadi dialog bukannya monolog dalam kelas. Hal ini memberikan kita pandangan yang lebih luas dalam memandang setiap permasalahan guna menemukan solusi yang tepat. Sesuai dengan yang ia katakan di dalam blog-nya bahwa beliau lah dosen satu-satunya yang mungkin menyebutkan nama kami saat belajar di kelas adalah sebuah kenyataan. Di sela-sela belajar, ada saja hiburan yang ditampilkan agar mahasiswa tidak menjadi bosan dan mengantuk sehingga keadaan kelas selalu meriah dan menyenangkan. Saran yang dapat saya sampaikan sebetulnya tidak ada, hanya ingin kondisi kelas seperti saat ini tetap dipertahankan karena menurut saya sangat ideal untuk memunculkan niat belajar di kelas. Mungkin perlu di beragam kan lagi materi kuliah dengan media interaktif lainnya.

-0-

Nama : Roberton Siahaan , NPM :0806459021, Email: roberton.siahaan@ui.ac.id & roberton_ti08@yahoo.com, HP 08998069402

Hal pertama yang terpikirkan oleh saya ketika mengambil kelas etika enjinering adalah kelas yang mempelajari tentang hukum-hukum (pasal-pasal) yang menjadikan seseorang itu profesional dalam bidangnya. Belajar banyak teori, filsafat dan segala pemahamannya. Lebih banyak terfokus di kelas atau di kampus. Tetapi hal yang justru tidak terpikirkan oleh saya yang saya dapat. Bagaimana tidak, sudah sejak dari awal masuk kelas Pak Raldi menyampaikan bahwa kelas ini bukan kelas teori tetapi kelas yang akan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Saya mengira bahwa itu hanya perkataan saja. Ternyata tidak. Beliau sangat memegang kata-katanya. Banyak hal yang dalam setengah semester ini saya dapatkan dari beliau. Salah satunya adalah pembentukan pola pikir dan karakter saya. Pola pikir dibentuk dari mampu melihat keadaan sekitar kita. Mempelajari keadaan sosiologis masyarakat terutama yang sangat membutuhkan bantuan dan dorongan dalam hidup mereka. Pembentukan karakter dari aplikasi-aplikasi yang telah dan akan kami lakukan yaitu pengangkatan sumpah anti korupsi, visitasi kaum marginal, memberikan sumbangan suka rela kepada kaum yang membutuhkan, dan etika terpuji yaitu memberikan solusi yang menguntungkan masyarakat dalam jangka waktu yang lama. Hal lain yang saya dapatkan adalah mampu menulis. Sebelumnya saya tidak terlalu suka untuk menulis atau merangkai kata-kata sepanjang ini. Tapi karena ada kelas ini saya mampu menguraikan semua yang dipikiran saya dalam serangkaian tulisan.Saya rasa hanya ini kelas yang melakukan hal itu. dan untuk kedepannya biarlah kiranya semakin banyak yang berminat mengambil kelas ini supaya semakin banyak generasi muda yang terbina dari segi pola pikir, karakter dan sikap.

-0-

Nama Lengkap : ARYA YUWANA No. Mahasiswa : 0806329861 Email : yuwana.arya@gmail.com No. HP : 085691279005

Opini mengenai Kuliah Etika Enjiniring Prof Raldi Kuliah etika enjiniring yang diasuh oleh Prof Raldi adalah sebuah kuliah yang dinamis. Dalam setiap pertemuan pasti ada hal baru yang membuat mahasiswa tidak cepat bosan. Apalagi diiringi dengan cara mengajar Prof Raldi yang bisa dibilang eksentrik namun interaktif membuat dia selalu menjadi pusat perhatian kelas ketika membicarakan sesuatu hal. Penggunaan tanda pengenal nama saat di kelas yang mempunyai jurusan yang heterogen merupakan salah satu terobosan gemilang dari seorang Prof Raldi. Beliau tahu bahwa satu sama lain belum tentu saling mengenal atau ingat namanya dikarenakan perbedaan jurusan sehingga jarang kumpul dalam 1 kelas bersama. Hal ini membuat keakraban dapat terjalin satu sama lain karena dapat mengetahui nama masing-masing. Selain itu, penggunaan tanda pengenal nama ini juga membuat kita lebih akrab dengan beliau dikarenakan kita akan dipanggil dengan nama panggilan kita sendiri tidak seperti dosen kebanyakan yang tidak mengetahui nama kita sebenarnya. Kuliah yang berdasarkan oleh praktek ini juga lebih banyak memberikan pelajaran berharga mengenai etika yang sebenarnya daripada kita hanya belajar dari teori-teori saja di kelas.

Bahkan Prof Raldi jarang menyampaikan materi sebenarnya mengenai etika dikarenakan beliau beranggapan dunia luarlah yang akan memberikan pelajaran mengenai etika yang sebenarnya. 3 asisten yang selalu mendampingi Prof Raldi di kelas pun banyak membantu dalam hal pengajaran. Mereka tidak sungkan membagi cerita mereka masing-masnig mengenai proyek yang mereka lakukan saat mengambil kelas etijing sebelumnya. Melalui share tugas atau proyek dari asisten inilah kita dapat mengetahui gambaran mengenai tugas atau proyek apa yang harus kita jalankan. Usulan yang dapat saya berikan mengenai kelas etika enjiniring Prof Raldi adalah agar terus berinovasi dalam pengajarannya sehingga mahasiswa akan terus tertantang untuk hadir di setiap pertemuan karena akan menemukan hal yang baru. Selain itu, mungkin dapat pula dilaksanakan semacam ekskursi kelas ke suatu tempat (gedung DPR, KPK ata lainnya) sehingga kita dapat mempelajari etika lebih dalam lagi berikut implementasinya.

-0-

Nama : Fidel Rezki Fajry NPM : 0906488943 Email : del_rezki26@yahoo.com No.HP : 081365700563

Menurut saya, kuliah Etika Enjinering yang telah saya alami sangat menarik dan mengasyikkan. Bahkan, kuliah ini menjadi penyemangat saya untuk datang ke kampus karena selalu membuat saya lebih fresh dan memberikan kesan tesendiri di setiap pertemuannya. Saya sangat terkejut ketika Prof.Raldi memberikan wejangan berupa ESQ singkat mengenang Ibunda yang langsung membuat satu kelas mengeluarkan air mata. Dan Prof.Raldi juga menyuruh kita untuk langsung meng-sms Ibunda masing-masing, agar masing-masing mahasiswa meminta doa kesuksesan dari Ibundanya yang selama ini tidak pernah mengeluh mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Inilah merupakan momen yang paling berkesan. Disamping itu, hal yang paling saya sukai dari mata kuliah ini adalah tugas praktik yang diberikan , seperti tugas visit kaum marjinal, yang sangat membantu saya untuk bisa berinteraksi dengan orang-orang yang mungkin selama ini dilupakan keberadaannya dan sangat menggugah untuk meningkatkan kepedulian dan jiwa sosial yang selama ini dianggap kurang. Ini adalah wujud nyata dari aplikasi materi-materi mengenai etika yang selama ini diperoleh dan hanya disimpan di otak saja. Namun sekarang, saya diberi tugas untuk dapat menganalisa etika yang berada di lingkungan sekitar, ibarat kata “Talk less do more”. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat di mata kuliah ini, seperti mendapatkan dan mempelajari pengalaman hidup orang-orang (red : kaum marjinal yang di presentasikan oleh asisten dosen), bahkan juga belajar dari pengalaman hidup Prof. Raldi yang selalu membuat mahasiswa menjadi termotivasi baik dalam kegiatan perkuliahan maupun dalam kegiatan non akademik. Disamping itu, suasana kelas pun tidak terasa membosankan yang membuat mahasiswa yang berada di dalam kelas enggan untuk beranjak dari tempat duduknya, atau menutup matanya. Saya bingung untuk memberikan masukan sebagai usulan karena menurut saya apa yang sudah ada sekarang sudah sangat bagus dan dipertahankan. Mungkin, perlu diadakan kunjungan kaum marjinal secara satu kelas atau diadakannya konsol satu kelas untuk meningkatkan kebersamaan dan rasa kekeluargaan, terutama bersama Bpk.Prof.Dr.Ir.Raldi Artono Koestoer DEA.

Nama : Nofri Hasanudin NPM : 0806455843 Email : nofri.hasanudin@ui.ac.id No. HP : 08569814676

Kesan pertama yang timbul dari perkuliahan etika enjiring saat masuk di kelas adalah luar biasa. Saat semua mahasiswa diwajibkan memakai nametag sebagai identitas pribadi mereka sehingga kita dapat mengetahui nama mahasiswa lain yang terdiri dari berbagai jurusan dan angkatan. Ini merupakan metode yang khas dari perkuliahan ini. Selanjutnya pengalaman saya ketika izin untuk mengikuti workshop pejuang anti korupsi KPK ketika Pak Raldi melihat surat izin tersebut, beliau langsung meminta saya dan Havid untuk sharing mengenai pelajaran yang kami dapat dalam workshop tersebut. Ini penanda bahwa perkuliahan tidak hanya diberikan oleh dosen dan dapat diperoleh dari sumber lain.

Proyek visitasi, tugas etika terpuji dan yang lainnya merupakan salah satu metode dalam perkuliahan etika enjiring yang khas untuk menjadikan mahasiswa FTUI yang beretika sebagai generasi penerus dan pengubah bangsa yang lebih baik. Metode ini tidak lain dan tidak bukan merupakan suatu langkah untuk menjadikan mahasiswa FTUI yang memiliki karakter yang kuat sebagai generasi muda penggerak motor bangsa.

Saran untuk perkuliahan etika enjiring ke depan, sebaiknya perkuliahan tidak hanya dilakukan di dalam kelas. Saya mempunya usulan agar kita ber-90 orang melakukan suatu kegiatan turun lapangan bersama Pak Raldi untuk melakukan observasi yang berhubungan dengan perkuliahan etika enjiring. Ini bisa membuat kegiatan perkuliahan lebih aktif dan menyenangkan. Sukses untuk Pak Raldi yang telah mentrasnfer ilmu mengenai cara beretika dan bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya. Doa saya untuk Pak Raldi: Semoga Pak Raldi diberikan kesehatan dan semangat yang tak kunjung padam demi menjadikan mahasiswa FTUI yang beretika dan berkarakter demi terciptanya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Amin.

GURU INSPIRATIF

Lanjutkan bacaan anda dengan tulisan dari Rhenald Kasali dibawah ini. Sangat menarik…

[ARTIKEL] Menjadi Guru Inspiratif

Posted by: “Dhitta Puti Sarasvati” dputi131@gmail.com   Dhitta

Sun Aug 21, 2011 12:38 am (PDT)

Menjadi Guru Inspiratif
http://www.equator-news.com/kolom/20110821/menjadi-guru-inspiratif
Agustinus Sungkalang, SSas

Adalah guru besar Fakultas Manajemen Universitas Indonesia, Rhenald Kasali,
yang mengatakan dalam hidup ini kita mengenal dua jenis guru, yaitu guru
kurikulum dan guru inspiratif.

Yang pertama sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa
mentransfer seluruh isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang
standard (habitual thinking). Guru kurikulum mewakili 99 persen populasi
guru di seluruh Indonesia.

Guru inspiratif jumlahnya sangat terbatas, populasinya kurang dari 1 persen.
Ia bukan guru yang mengejar kurikulum, melainkan yang mengajak
murid-muridnya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak
murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box), mengubahnya
di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Kalau guru
kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, guru inspiratif melahirkan
pemimpin pembaru yang berani menghancurkan kebiasaan-kebiasaan lama.

Penulis berpikir, dari penjelasan di atas bahwa dunia ini memerlukan
dua-duanya seperti kita memadukan validitas internal (dijaga oleh guru
kurikulum) dengan validitas eksternal (yang dikuasai guru inspiratif) dalam
penjelajahan ilmu pengetahuan. Keberadaan guru inspiratif akan sangat
menentukan berapa lama suatu bangsa mampu keluar dari krisis. Semakin
dibatasi, akan semakin lama dan semakin sulit suatu bangsa keluar dari
kegelapan.
Freedom

Karya-karya pembaruan, baik temuan-temuan spektakuler keilmuan,
produk-produk komersial, maupun gerakan-gerakan sosial akan tampak di
masyarakat. Tetapi tak dapat dimungkiri semua itu berawal dari bangku
sekolah. Dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan
melihat perlunya kreativitas. Ia memperbaiki hal-hal yang dipercaya banyak
orang tidak bisa diperbaiki, dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung
(connecting the unconnected).

Kisah dan karya guru inspiratif antara lain, dapat dilihat dalam diri Erin
Gruwell, guru perempuan yang ditempatkan di sebuah kelas �bodoh”, yang
murid-muridnya sering terlibat kekerasan antargeng. Berbeda dengan kelas
sebelah yang merupakan kumpulan “honors students”, yang memiliki DNA pintar
dan disiplin. Di honors class yang dibutuhkan adalah guru kurikulum.

Erin memulainya dengan segala kesulitan. Selain katanya “bodoh” dan tidak
disiplin, mereka banyak melawan, terlibat kekerasan antargeng, saling
melecehkan, tempramen, dan selalu rusuh. Di pinggang anak-anak SMA ini hanya
ada pistol atau kokain. Di luar sekolah mereka saling mengancam dan
membunuh.

Kelas itu adalah kelas buangan. Bagi para guru kurikulum, anak-anak
supernakal tak boleh disekolahkan bersama-sama distinguished scholars.
Tetapi Erin tak putus asa, Ia membuat “kurikulum”-nya sendiri. Kurikulum itu
bukan berisi ajaran-ajaran pengetahuan biasa (hard skill), melainkan
pengetahuan hidup.

Ia mulai dengan sebuah permainan (line games) dengan menarik sebuah garis
merah di lantai dan membagi mereka ke dalam dua kelompok di kiri dan di
kanan. Kalau menjawab “ya” mereka harus mendekati garis. Dimulai dengan
pertanyaan-pertanyaan ringan, dari album musik kesayangan, sampai
keanggotaan geng, kepemilikan narkoba, dan pernah dipenjara atau ada teman
yang mati akibat kekerasan antargeng.

Line games menyatukan anak-anak nakal yang tiba-tiba melihat bahwa mereka
senasib. Sama-sama waswas, hidup penuh ancaman, curiga pada kelompok lain,
dan tak punya masa depan. Mereka mulai bisa lebih rileks terhadap guru dan
teman-temannya dan sepakat saling memperbarui hubungan.

Setelah berdamai, guru inspiratif membagikan buku, mulai dari biografi Anne
Frank yang menjadi korban kejahatan Nazi, sampai buku harian. Anak-anak
diminta menulis kisah hidupnya, apa saja. Mereka menulis bebas. Karya-karya
mereka disatukan dan diberi judul Freedom Writers (FW). Murid-murid berubah,
hidup mereka menjadi lebih baik dan banyak yang menjadi pelaku-pelaku
perubahan di masyarakat. Kisah guru inspiratif dan perubahan yang dialami
anak-anak ini didokumentasikan dalam film FW yang dibintangi Hilary Swank.
Keluar dari belenggu

Apa yang dilakukan Erin Gruwell sebenarnya tidak hanya terbatas pada dunia
pendidikan dasar saja, melainkan juga pada pendidikan tinggi. Namun entah
mengapa belakangan ini dunia pendidikan kita semakin mengisolasi dirinya
dari dunia luar dan hanya ingin menghasilkan lulusan yang terbelenggu oleh
kurikulum.

Meski belum begitu menonjol dalam masyarakat kita, peranan guru-guru
inspiratif ini sangat dibutuhkan. Terlebih anggaran pendidikan kita masih
sangat terbatas, dan lulusan-lulusannya banyak yang tidak bisa bekerja
sesuai dengan bidang studi yang ditempuhnya. Kita tidak bisa mendiamkan
lahirnya generasi yang patuh kurikulum, pintar secara akademis, tahu
kebenaran internal, tapi kurang kreatif mendulang kesempatan dan buta
kebenaran eksternal.

Ada dua masalah yang perlu kita renungkan di sini. Pertama, guru kurikulum
seharusnya tidak hanya membentuk kompetensi (student’s ability), tetapi juga
harus memiliki kesamaan dengan guru inspiratif, yaitu membentuk bukan hanya
satu atau sekelompok orang, melainkan ribuan orang. Satu orang yang
terinspirasi menginspirasi lainnya sehingga sering terucap kalimat “Aku
ingin jadi seperti dia” atau “Aku bisa lebih hebat lagi”.

Kedua, ketidakmampuan para pendidik merespons tekanan-tekanan eksternal,
dapat membuat mereka membentengi diri secara berlebihan dengan mengunci
kurikulum secara sakral. Setiap upaya yang dilakukan guru-guru kreatif untuk
meremajakannya dianggap sebagai proporsi pahlawan kesiangan yang baru
muncul, dan dipandang sebagai pemula yang belum punya wawasan dan kapasitas.

Saya pernah membaca sebuah jurnal pendidikan, terdapat sebuah cerita
kejadian yang menimpa seorang guru inspiratif. Ceritanya begini, pada tahun
2005 ia menerima penghargaan dari Yayasan Pengembangan Kreativitas atas
karya-karyanya dalam bidang pendidikan. Penghargaan serupa dalam
masing-masing bidang saat itu juga diberikan kepada Helmi Yahya, Jaya
Suprana, Bang Yos, dan Guruh Soekarno Putra.

Tapi tak banyak yang tahu hari-hari itu ia baru saja menerima ancaman
pemecatan karena dianggap melanggar “kurikulum”. Kesalahannya adalah telah
memperbarui metode pengajaran agar murid-muridnya menjadi lebih artikulatif.
Semester berikutnya namanya dicoret dari daftar pengajar. Karier guru
besarnya pun dipersulit oleh guru-guru kurikulum yang menggunakan kaca
pembesar menguji kebenaran internal.

Saya mengutip kata Jagdish N Sheth, begitu orang-orang lama menyangkal
realitas baru, maka mereka dapat menjadi arogan, terperangkap dengan
kompetensi masa lalu, ingin hidupnya nyaman, dan membangun batas-batas
kekuasaan teritorial. Perilaku internal itu adalah belenggu innertia, yang
disebutnya sebagai destructive habits. Mereka menggunakan mikroskop untuk
memperbesar hal-hal kecil yang tidak dimilikinya.

Sudah saatnya benteng innertia seperti ini dihapuskan dengan
“memanusiawikan” kurikulum dengan memberi ruang yang lebih memadai bagi
guru-guru kreatif.

One response

  1. usulan dalam suatu belajar di kls agar di tambahkan vedio2 motivasi n etika..dan juga langsung terjun ke masyrakat yang di tuju..seperti kaum moslem,krtistin,budha,dll..serta msyrakat atas.menengah,maupun bawah/tidak mampu…

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s