Ada Bias Media dalam Isu Rektor UI dan Pemberian Gelar DHC pada Arab Saudi?
9 SEPTEMBER 2011 OLEH LKM MEDIA WATCH 1 KOMENTAR
Saya belum meneliti banyak media, tetapi membaca sekilas beberapa media massa, terkesan ada bias yang sarat kepentingan. Misalnya: media tak cukup berimbang dalam menampilkan pihak yang pro dan kontra kebijakan Rektor UI dalam pemberian gelar DHC kepada Raja Arab Saudi. Hampir 90% sumber adalah yang mengkritik (kontra). Saya baru menyaksikan Metro TV beberapa hari lalu, dan ada Alwi Shihab yang bersuara beda (tidak anti/protes).
Khusus di Jawa Pos kemarin, 7 September 2011 halaman 12, ada berita yang judulnya saja sudah misleading.
Judul berita: Mendiknas Curigai Motif Politis.
Sub Judul: Beri Doktor HC Raja Saudi, Rektor UI Dapat Teguran.
Berita yang ada foto Mendiknas itu, dari judulnya, menggiring kita memaknai: Mendiknas menegor Rektor UI dan mencurigainya bahwa pemberian DHC itu bermotif politis.
Ternyata setelah dibaca di badan berita, judul dan sub judul itu dua hal yang berbeda, tidak satu rangkaian. Yang dicurigai Mendiknas ternyata justru yang kontra, yang mengusung gerakan lengserkan Rektor. Ini tertera jelas pada kalimat kedua di lead berita atau alinea pertama: Dia membeberkan, kisruh gelar doktor HC itu tidak murni karena keprihatinan terhadap hukuman pancung Ruyanti binti Satubi, TKI yang bekerja di Arab Saudi.
Pada alinea berikutnya disebutkan bahwa M Nuh melihat ada motif terselubung dari polemik tersebut.
Setelah membaca beritanya, kesimpulan saya: Mendiknas M Nuh ini mendukung Rektor UI dan mengecam para pemrotesnya. Tapi itu tidak terungkap di judul dan sub judul berita.
Entahlah, apakah ini kesalahan teknis, yakni ketidakmahiran editor membuat judul (menyarikan isi berita menjadi judul); atau sengaja memlintir karena bias politik yang memang sedang melanda sementara media massa arus utama Indonesia?
Bias media ini tentu dipengaruhi persuasi narasumber yang digunakan. Menilik para narasumbernya yang bersuara keras, ada kesan para pemrotes ini mencari-cari alasan untuk melengserkan Rektor UI. Kronologinya begini: pertama karena alasan pemberian gelar yang dianggap kurang tepat (insensitif dengan kemanusiaan), lalu disambung “bukan hanya itu alasannya, itu cuma puncak gunung es”, maka muncullah semua “borok” Rektor UI, dari yang personal (arogan) sampai yang formal (menghapus Majelis Wali Amanah). namun saya melihat, ujung-ujungnya adalah kursi atau tampuk UI 1.
Tulisan saya di Sinar Harapan yang Insya Allah terbit hari ini akan mengupas hal-hal apa saja yang diabaikan media dalam mengangkat isu ini.