Kota Senja Indah Kaimana (1)


Torea, Utarum.. Pernah denger gak ?

Belum pernah kan ? Yah saya juga baru denger pertama x ini. Awalnya pas baru berangkat dari Ambon tadi pagi jam 8.20 WIT, satu jam kemudian steward seragam merah kasi pengumuman, dia bilang ”Sebentar lagi kita akan mendarat di …..” Uh… gak jelas banget ngomongnya. Bunyi kresek2nya lebih keras dari ngomongnya. Pesawat kecil Wings-Air ini bener2 gak pernah ada maintenancenya alias gak pernah dirawat. Padahal harga tiketnya lebih mahal daripada Jkt-Ambon.

Anda tentu pernah denger kan Fak-fak sebuah kota di leher kepala Burung Papua (baca: Fuck-fuck…ih gila lo, itu kan orang Inggris punya bahasa), kota ini termasuk dalam propinsi Papua-Barat. Supaya anda tahu aja ya, Papua itu punya dua propinsi, satu Papua dan satu lagi Papua Barat.. So selagi kami liat2 saat transit di bandara sederhana itu, tahu2 baling2 pesawat D8-100 itu sudah berputar mau berangkat. Saya dan Habib Muhammad bin Idrus Alhamid ter-birit2 lari naik ke pesawat takut tertinggal, karena ini sistem barbar segala sesuatu musti tahu sendiri gak pake pengumuman. Begitu kami masuk, tangga pesawat langsung nutup dan pesawat berangkat take-off…. Uh untung gak terlambat, gile banget. Jadi Torea , itulah nama bandara ini.

Ini kali ke 7 saya berkunjung ke Bumi Papua ini. Lumayan ya, koq norak banget sih di-itungin ? Ya tentu, karena jarang2 orang mau atau berminat ke Papua, banyak yang denger nama Papua aja udah merinding ngebayangin perang suku dan orang2nya pada gak pake baju hanya make koteka. Betul gak sih begitu ? Itu tidak benar, itu image yang salah terhadap Papua. Mulai dari 3x kunjungan pertama saya tahun 1977 ke Sorong, Salawati dan Lugo Island… Semua itu di daerah kepala burung Irian. Visit ini bersama dua orang senior saya Yunus Makmun dan Ismoyo Sumitro (mereka ada koq di Facebook… Kitorang ketemu lagi Mo… tahu2 udah tua aja kita. Bentar lagi kita kepala enam ya…). Kali ke 4 bersama almarhum Ajit Lilani waktu itu kerja di agen Webco dumptruck, rada jauh ke puncak Cartenz (puncak Jaya) tahun 1979 PT Freeport masih dalam tahap awal pembangunannya tapi kota Tembagapura sudah ada. Waktu itu mendarat di kota Timika dan naik mobil dua jam ke Tembagapura. Kemudian kali ke 5 bersama mas tris Budiono dan pak Anis (Wakil Rektor) ke Grasberg Freeport yang sekarang tahun 2006. Kali ke 6 Tahun 2007 ke Timika di kabupaten Mimika Papua Barat juga.untuk ujian seleksi masuk UI KSDI seperti sekarang ini.

Back to pesawat kecil tadi, pemandangan bumi Papua kembali terhampar di bawah diantara awan putih yg menyelimuti malu2 hamparan hutan bak permadani hijau, gunung dan sungai. Teluk yang berliku serta pesisir yang kadang seperti leher gadis berkalung mutiara, kembali timbul tenggelam menyembul diantara awan putih kadang tebal kadang tipis. Perjalanan antara Fakfak dan Kaimana lebih banyak menyisir pantai sehingga pesawat sering berada dilaut saja atau dihutan saja dan juga menyusur tepi pantai. Laut biru diseling pulau kecil ada yang dikelilingi pasir putih ada  pula gunung yg langsung berbatas laut.

Adakah yang lebih indah dari bumi anugerah Allah ini ? Tak pernah akan ada duanya. Adakah kita mahlukNya ”the so called” manusia modern ini, sanggup menjaganya ? Katakanlah YA kita mampu. Mari segera laksanakan dan tekadkan dengan penuh konsistensi. – LESTARIKANLAH BUMI PAPUA INI -.

Universitas Indonesia sudah memulainya dengan membuat MOU antara Rektor UI (ditanda tangani Wakil Rektor Dr Ir M Anis) dengan Pemerintah Kabupaten Kaimana Provinsi Papua Barat dengan bupatinya Drs Hasan Ahmad Msi. Realisasi pertama adalah Penyelenggaraan Program Kerjasama Daerah dan Industri (KSDI) antara UI dengan Pemkab Kaimana. Dan dalam rangka itulah kami berada di Kaimana sekaligus melihat dan mempelajari kemungkinan kerjasama lain yang bisa dikembangkan antara UI dan Pemkab Kaimana.

Kelanjutan dari perjalanan pesawat ini adalah 30 menit sampai di Kaimana dari atas terlihat landasan pesawat yg relatif pendek. Itu sebabnya ahanya pesawat kecil yang bisa kesini. Dan yang aneh juga bagi saya nama bandaranya, yaitu UTARUM. Kelihatan sederhana (Nampaknya banyak perlu direnovasi)., saya masih belum tau lagi apa artinya kata itu. Dan aneh lagi di papan nama bandara tertulis:

KOTA SENJA INDAH KAIMANA.

Betulkah indah seperti yang dinyanyikan oleh biduan lama Alfian – Senja di Kaimana -.

Yang saya ingat sebagian syairnya:

Kan kuingat slalu /Kan kukuenang slalu /Senja inda senja di Kaimana.- (12Mei 09).-

About these ads

  1. emank senja kaimana kereen banget, kebetulan singgah beberapa minggu
    potensi alamnya juga ruaar biasa….

    Bang kira2 ada hubungan apa dengan pulau jawa ya? kok mitos2nya hampir sama dengan di jawa

  2. Sx tingglkn Kaimana thn 1998, msh Fak2 kaimana ternyata perubahanx sagat cepat rasanya khususx kota senja yg tdk bs sx lupa khussx air terputarx tlk arguni, obakx nabima tlk etna, kaimana bunsur, kaki air kampung baru dan coa, luar biasa pembangunanx saya bangga kami sagat rindu kp sx bisa bertemu lg warga kota senja kaimana……..

  3. Yup setuju!
    Kaimana tidak seperti ‘Papua’ yg ada dalam bayangan kita sebelum menginjakkan kaki di sana.

    Saya juga bayangan yg sama persis dgn yg Bapak bayangkan. Kami disana bulan Februari lalu.

    Hmmm…. saya sempat terperangah… banyak ibu-ibu yg memakai kerudung/jilbab. Rasanya aneh aja gitu…. (^_^). Yah mungkin karena sudah ter mindset bhwa org Papua adalah kristen. Yahh…. cukup surprised.
    Dan dengan jilbab itu… mereka terlihat cantik-cantik lho…

Leave a Reply (boleh kasi komentar)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s